Beranda | Artikel
Ketenangan Jiwa sebagai Kekayaan Sejati
11 jam lalu

Ketenangan Jiwa sebagai Kekayaan Sejati merupakan kajian Islam yang disampaikan oleh: Ustadz Dr. Muhammad Nur Ihsan, M.A. dalam pembahasan Thariq al-Hijratain wa Bab as-Sa’adain (Jalan Kebahagiaan). Kajian ini disampaikan pada Jumat, 21 Rabiul Akhir 1448 H / 02 Oktober 2026 M.

Kajian Tentang Ketenangan Jiwa sebagai Kekayaan Sejati

Seseorang yang menyadari eksistensinya sebagai hamba yang fakir kepada Allah ‘Azza wa Jalla akan memahami bahwa tiada daya dan kekuatan melainkan dengan pertolongan-Nya. Kesadaran inilah hakikat kekayaan hati yang sejati, yang menuntun seorang hamba merasakan makna hidup sesungguhnya dan membimbingnya di atas jalan kebahagiaan.

Kefakiran kepada Allah bukanlah kekurangan harta, kemiskinan materi, ataupun ketiadaan kedudukan di dunia. Kefakiran yang dimaksud adalah kebutuhan mutlak seorang hamba kepada Allah ‘Azza wa Jalla dalam setiap kondisi, waktu, dan keadaan.

يَا أَيُّهَا النَّاسُ أَنتُمُ الْفُقَرَاءُ إِلَى اللَّهِ ۖ وَاللَّهُ هُوَ الْغَنِيُّ الْحَمِيدُ

“Wahai manusia, kamulah yang memerlukan Allah; dan Allah Dialah Yang Mahakaya lagi Maha Terpuji.” (QS. Fatir [35]: 15)

Ketika seorang hamba memahami kefakirannya kepada Allah, ia menyadari sepenuhnya bahwa ia membutuhkan petunjuk dan bimbingan Allah dalam menjalani kehidupan. Ia membutuhkan pertolongan-Nya agar mampu beribadah, melakukan kebaikan, serta memiliki keteguhan hati dan keistiqamahan. Keberhasilan, kesuksesan, dan segala pencapaian pada hakikatnya semata-mata merupakan karunia dari Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Mengenal Keagungan Allah Menumbuhkan Ketundukan

Semakin seseorang mengenal kesempurnaan, kekayaan, kemuliaan, dan keperkasaan Allah, semakin ia menyadari hakikat dirinya yang tidak memiliki apa pun. Seluruh kekuatan, ilmu, dan hidayah yang diperoleh berasal dari Allah Subhanahu wa Ta’ala. Dialah yang memberi taufik dan meneguhkan hati seorang hamba di atas ketaatan.

Pemahaman terhadap kekuasaan dan kekuatan Allah yang termaktub dalam tauhid rububiyah akan menuntun seseorang menjadi hamba yang taat. Kesadaran bahwa dirinya hanyalah seorang hamba (‘abdullah) bagi Rabb Yang Maha Perkasa dan Maha Agung mendorongnya untuk memurnikan penghambaan. Kemuliaan seorang hamba hanya terletak pada penghambaan dirinya kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Kefakiran Hati dan Pengambilan Sebab

Hamba yang paling merasakan kefakiran di hadapan Allah adalah orang yang paling kaya jiwanya. Merasa fakir kepada Allah bukan berarti meninggalkan ikhtiar atau sebab-sebab syar’i yang diperintahkan. Seorang hamba tetap menempuh berbagai sarana dan usaha, tetapi tidak menggantungkan hati pada sebab maupun pertolongan makhluk.

Segala hal tidak akan mampu memberikan manfaat apa pun kecuali dengan izin Allah Subhanahu wa Ta’ala. Harta, pekerjaan, dan kedudukan hanyalah sebab yang sepenuhnya berada di bawah pengaturan, kekuasaan, dan izin-Nya. Kendati demikian, ikhtiar tetap wajib dilakukan.

احْرِصْ عَلَى مَا يَنْفَعُكَ وَاسْتَعِنْ بِاللَّهِ

“Bersungguh-sungguhlah meraih apa yang bermanfaat bagimu dan mohonlah pertolongan kepada Allah.” (HR. Muslim)

Sebaik apa pun ikhtiar yang ditempuh, sebab tidak akan mampu mendatangkan kebaikan mutlak. Hakikat sebab hanyalah sarana, sedangkan yang mengatur, mentakdirkan, dan mengizinkan segala sesuatu terjadi secara sempurna adalah Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Kekayaan Semu dan Dua Ketakutan Manusia

Allah Subhanahu wa Ta’ala adalah Dzat Yang Maha Kaya, sedangkan seluruh hamba diliputi keterbatasan, kekurangan, kefakiran, dan kelemahan. Manusia membutuhkan berbagai sarana untuk kelangsungan hidupnya, mulai dari udara, makanan, minuman, ilmu, kasih sayang, hingga petunjuk hidup. Seluruh kebutuhan tersebut diciptakan dan dimudahkan oleh Allah ‘Azza wa Jalla.

Segala hal yang dimiliki manusia di dunia sifatnya hanya sementara, sedangkan kekayaan di sisi Allah bersifat mutlak dan sempurna. Harta, kedudukan, dan keturunan hanyalah kekayaan semu. Seorang hamba yang memahami hakikat kefakirannya menyadari bahwa kondisi dunia selalu berbolak-balik. Hari ini seseorang bisa kaya, sehat, aman, dan berilmu, namun esok hari segala pencapaian tersebut dapat lenyap.

Sebagaimana dijelaskan oleh Imam Ibnul Qayyim, orang yang menjadikan dunia sebagai tujuan utama hidupnya akan senantiasa diliputi dua ketakutan: takut kehilangan apa yang telah dimilikinya dan takut tidak memperoleh apa yang diinginkannya. Semakin banyak dunia yang diraih, semakin besar pula ambisi dan kecemasannya, kecuali bagi mereka yang memperlakukan harta sekadar sebagai sarana ketaatan kepada Allah.

Menjadikan Harta sebagai Pelayan, Bukan Majikan

Harta pada hakikatnya tidak tercela. Harta menjadi tercela tatkala mengambil tempat yang tidak semestinya di dalam hati. Manusia dipersilakan berusaha dan bekerja mencari harta karena kehidupan dunia membutuhkannya sebagai penopang nafkah keluarga serta sarana beribadah, seperti menunaikan haji, umrah, dan sedekah. Harta yang berkah adalah harta yang diperoleh dengan cara yang halal, digunakan untuk kebaikan yang disyariatkan, serta menjadi sarana ketaatan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Seseorang semestinya meletakkan harta di tangan dan rekeningnya tanpa membiarkannya masuk ke dalam hati. Hati hanya diperuntukkan bagi rasa cinta dan pengagungan kepada Allah ‘Azza wa Jalla. Orang yang kaya bersama Allah justru akan merasakan kegelisahan apabila hubungannya dengan Allah terputus. Manusia diciptakan bukan semata-mata untuk mengumpulkan harta, melainkan untuk beribadah, sedangkan harta diizinkan sebagai sarana penyempurna ibadah tersebut.

Ketika harta menguasai hati, status manusia bergeser dari hamba Allah menjadi budak duniawi, seperti dinar dan dirham. Harta tersebut akhirnya menghalangi pelakunya dari ketaatan, menjerumuskannya ke dalam kemaksiatan, melalaikannya dari berzikir, dan menumbuhkan kesombongan sebagaimana yang terjadi pada Qarun ketika membanggakan ilmu dan usahanya hingga akhirnya ditenggelamkan ke dalam bumi.

تَعِسَ عَبْدُ الدِّينَارِ وَعَبْدُ الدِّرْهَمِ

“Celakalah budak dinar, celakalah budak dirham.” (HR. Bukhari)

Hakikat Kekayaan Jiwa

Kekayaan yang hakiki bukanlah dinilai dari banyaknya materi dan aset duniawi, melainkan ketenteraman hati yang merasa cukup bersama Allah Subhanahu wa Ta’ala.

لَيْسَ الْغِنَى عَنْ كَثْرَةِ الْعَرَضِ وَلَكِنَّ الْغِنَى غِنَى النَّفْسِ

“Kekayaan itu bukanlah karena banyaknya harta benda, melainkan kekayaan yang sebenarnya adalah kekayaan jiwa.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Kekayaan hati membuat seorang hamba merasa cukup dengan karunia Allah sehingga tidak larut dalam kegelisahan menghadapi persaingan duniawi. Manusia kerap kali cemas karena kehilangan peluang materi atau persaingan antarmanusia, tetapi lupa mengkhawatirkan kondisi hatinya yang jauh dari Allah serta berlumuran dosa dan kelalaian.

Ketamakan Manusia terhadap Harta

Persaingan dunia yang ketat kerap memicu kegelisahan dan kekhawatiran manusia akan ketidaktercapaian keinginannya. Setelah harta diperoleh, muncul kecemasan baru mengenai cara menjaganya serta ketakutan kehilangan peluang untuk mengumpulkan lebih banyak lagi. Harta semata tidak pernah memuaskan manusia, melainkan menjadikannya semakin rakus.

لَوْ كَانَ لِابْنِ آدَمَ وَادِيَانِ مِنْ مَالٍ لَابْتَغَى ثَالِثًا

“Sekiranya anak Adam memiliki dua lembah emas, niscaya ia akan mencari lembah yang ketiga.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Kecukupan Hati Menghadapi Pasang Surut Dunia

Kekayaan hati terwujud tatkala hati merasakan kecukupan dari Allah ‘Azza wa Jalla. Hati tersebut tidak terus-menerus gelisah karena makhluk maupun harta, serta tidak menjadikan dunia sebagai poros kebahagiaan. Orang yang memahami hakikat dunia tidak akan hancur saat kehilangan sesuatu. Sebagian orang mengalami tekanan batin berat hingga hilang akal ketika kehilangan kedudukan atau gagal meraih ambisi duniawi setelah mengorbankan banyak harta.

Dunia senantiasa datang dan pergi serta silih berganti. Selama jiwa terjaga, hati terpelihara, keimanan kokoh menancap, dan ilmu menuntun pada kebaikan, itulah kenikmatan yang sesungguhnya. Berapa pun banyaknya harta yang dikumpulkan selama hidup, semuanya akan ditinggalkan saat kematian tiba dan beralih menjadi harta warisan bagi keluarga.

“Hartamu yang sesungguhnya adalah apa yang telah engkau infakkan, sedangkan harta yang engkau tinggalkan adalah milik ahli warismu.” (HR. Bukhari)

Ketenangan Jiwa sebagai Kekayaan Sejati

Orang yang kaya jiwa senantiasa merasa cukup karena meyakini bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala yang mengatur hidupnya. Sekalipun miskin secara materi, ia memiliki sesuatu yang jauh lebih berharga, yaitu ketenangan jiwa. Sumber ketenangan jiwa orang beriman terealisasi melalui zikir kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.

الَّذِينَ آمَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُم بِذِكْرِ اللَّهِ ۗ أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ

“(Yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram.” (QS. Ar-Ra’d [13]: 28)

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam tidak memiliki dunia, namun beliau adalah manusia paling mulia, paling bertakwa, dan memiliki ketenangan hidup paling tinggi melalui peribadahan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Landasan Utama Kekayaan Hati

Imam Ibnul Qayyim rahimahullah menjelaskan tiga landasan utama kekayaan hati.

Landasan pertama adalah selamatnya hati dari ketergantungan kepada sebab. Seseorang tetap berusaha dan bekerja, tetapi hatinya meyakini bahwa sarana atau ikhtiar tersebut tidak memiliki kekuatan mandiri dalam menentukan keberhasilan.

Landasan kedua adalah meyakini serta menerima ketetapan dan takdir Allah ‘Azza wa Jalla. Segala sesuatu yang telah digariskan-Nya pasti mengandung hikmah sempurna. Pilihan serta ketentuan Allah tentu jauh lebih baik dan bijaksana dibandingkan dengan keinginan maupun pilihan manusia itu sendiri.

Landasan ketiga, sebagaimana disimpulkan oleh Imam Ibnul Qayyim, adalah terbebasnya hati dari permusuhan terhadap sesama manusia akibat urusan duniawi. Sebagian besar hubungan manusia dibangun atas dasar kepentingan dan transaksi materi, sehingga keikhlasan murni menjadi hal yang langka. Permusuhan karena membela agama demi keimanan adalah hal terpuji, namun kebencian yang dipicu oleh perebutan harta, jabatan, kekuasaan, atau kepentingan kelompok adalah penyakit yang merusak. Hati yang kaya adalah hati yang selamat dari dendam duniawi akibat bisikan setan dan hawa nafsu.

Pentingnya menjaga kebersihan hati ditekankan oleh Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, karena hatilah poros utama penentu baik atau buruknya seluruh perbuatan manusia.

أَلَا وَإِنَّ فِي الْجَسَدِ مُضْغَةً إِذَا صَلَحَتْ صَلَحَ الْجَسَدُ كُلُّهُ وَإِذَا فَسَدَتْ فَسَدَ الْجَسَدُ كُلُّهُ أَلَا وَهِيَ الْقَلْبُ

“Ketahuilah, sesungguhnya di dalam jasad ada segumpal daging. Jika ia baik, maka baiklah seluruh jasad. Jika ia rusak, maka rusaklah seluruh jasad. Ketahuilah, segumpal daging itu adalah hati.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Di antara fenomena menyedihkan akibat dari kerusakan hati terlihat nyata tatkala permusuhan dan perselisihan terjadi di antara sesama kaum muslimin, bahkan dalam satu majelis ilmu yang telah mempelajari sunnah. Fenomena tersebut menunjukkan adanya masalah pada hati, yang sering kali bersumber dari penyakit hasad atau dengki terhadap perkara duniawi.

Buah Kekayaan Hati pada Anggota Badan

Kekayaan dan kebersihan hati melahirkan akhlak mulia serta ketenteraman jiwa karena merasa cukup dengan Allah ‘Azza wa Jalla. Hati yang kaya memancarkan kebaikan nyata dalam kehidupan sehari-hari, membuat wajah tampak teduh, dan menuntun anggota badan kepada ketaatan.

Ketika hati membaik, mata menjadi mudah mengambil pelajaran dan terjaga dari hal yang haram, telinga senang mendengarkan nasihat, serta tangan dan kaki terasa ringan untuk beramal shalih, menghadiri majelis ilmu, dan mendirikan shalat. Jiwa pun berubah menjadi lebih lapang, lembut, penyabar, serta dermawan.

Hati yang baik membimbing lisan berkata jujur dan penuh hikmah. Setiap muslim dituntut menyaring kabar sebelum menyebarkannya agar tidak memicu permusuhan, kebencian, atau kegaduhan di tengah masyarakat, khususnya di kalangan Ahlus Sunnah.

Kemudahan media saat ini menuntut akal sehat dan pertimbangan matang sebelum menulis atau berbicara. Para penuntut ilmu, ulama, ustadz, dan penggiat dakwah memikul tanggung jawab lebih besar untuk bijak bersikap, karena tindakan ceroboh dapat menodai kemuliaan ilmu yang disandang di hadapan masyarakat.

Keberadaan orang berhati bersih menebarkan kedamaian, memberi ketenangan, dan mendorong orang lain giat dalam ketaatan. Sebaliknya, menjalin kedekatan dengan orang yang hatinya rusak hanya mendatangkan petaka dan kesengsaraan.

Bagaimana penjelasan lengkapnya? Mari download dan simak mp3 yang penuh manfaat ini.

Download MP3 Kajian Tentang Ketenangan Jiwa sebagai Kekayaan Sejati

Raihlah pahala dan kebaikan dengan membagikan hasil rekaman ataupun link kajian “Ketenangan Jiwa sebagai Kekayaan Sejati” yang bermanfaat ini, melalui jejaring sosial Facebook, Twitter, dan yang Anda miliki. Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala membalas kebaikan Anda.

Telegram: t.me/rodjaofficial
Facebook: facebook.com/radiorodja
Twitter: twitter.com/radiorodja
Instagram: instagram.com/radiorodja
Website: www.radiorodja.com

Dapatkan informasi dari Rodja TV, melalui :

Facebook: facebook.com/rodjatvofficial
Twitter: twitter.com/rodjatv
Instagram: instagram.com/rodjatv
Website: www.rodja.tv


Artikel asli: https://www.radiorodja.com/56589-ketenangan-jiwa-sebagai-kekayaan-sejati/